Ilmu Tasawuf

Ilmu tasawuf adalah cabang dari ilmu Islam yang mempelajari tentang aspek spiritual dan kebatinan dari agama. Tasawuf sering disebut juga sebagai tarekat atau sufisme. Para pengikut tasawuf biasanya berusaha mencapai kedekatan dengan Tuhan melalui meditasi, pengamatan diri, dan pencapaian kesadaran yang lebih tinggi. Mereka juga biasanya menekankan pentingnya pengabdian dan kasih sayang terhadap sesama. Ilmu tasawuf jawi ini sebagai ciptaan dari Yang Maha Kuasa dan sebagai panduan untuk kita untuk melestarikan beragam ilmu peningggalan beberapa leluhur di pulau Jawa. Pokok tuntunan yang hendak diulas ialah ilmu pengetahuan mengenai pengisi kehidupan dan pengetahuan sesudah jalani kehidupan.
<a href="https://www.pshterate.com/"><img src="Ilmu Tasawuf Macrocosmic Universe Solar System.jpg" alt="Ilmu Tasawuf"></a>
Ilustrasi Ilmu Tasawuf terhadap Tata Surya “solar system” Jagad Gede “Makrokosmos”
Beberapa ilmu itu telah ada semenjak jaman purbakala dan muncul bertepatan dengan lahirnya aksara Jawa (huruf Jawa) yang diprediksi sekitaran tahun +911 SM dan menjadi tradisi religius Nusantara, bahkan juga saat sebelum hadirnya Hindu, Islam, Konghucu, dan Nasrani ke Indonesia.
Maka dari itu, kita jadi orang Jawa terutamanya dan masyarakat Indonesia biasanya tak perlu sangsi untuk pelajari dan melestarikan ilmu pengetahuan Tasawuf Jawi ini. Sebetulnya ilmu Tasawuf Jawi telah dirinci oleh semua aktor religius berbentuk kitab dan nasihat langsung, tetapi untuk memudahkan dan mencapai semua kalangan masyarakat semua Indonesia, karena itu lewat media global zaman saat ini bisa secara mudah untuk menyesuaikan ilmu religius yang walau masih kulit luarnya saja.
Saat sebelum pelajari mengenai ilmu Tasawuf Jawi, dianjurkan untuk berdoa lebih dulu supaya pada proses pembahasan mendapatkan karunia dari Yang Maha Kuasa dan kasih-sayang dari beberapa nenek moyang figur ilmu religius dalam garis yang betul menurut Yang Maha Kuasa.
Struktur Istilah :
  • Islam adalah Aluamah, Supiyah, Amarah, Mutmainah.
  • Ilmu Titen Jawa adalah Jiwa, Raga, Suksma, Rahsa (sebenarnya tidak dapat dipungkiri “Islam, itu meliputi semuanya, hanya saja Insan yang sebelumnya mengenal dan telah sudah diberi wisikan ananing Dzat dengan mengistilahkan berbeda penyebutannya).
  • Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate telah terpampang jelas dari Badge PSHT yang mengambarkan 4 Kiblat 5 Pancer, dengan Hati karena untuk Rendah hati (memang berbeda sendiri jika melihat Lambang Badge PSHT dan tampilan Atributnya sederhani namun penuh Wibawa karena menjunjung tinggi nilai Manjing Marang Gusti Kang Maha Kuasa, lan Makhluk amung titah sak wantah ndedherek kersaning Gusti).
<a href="https://www.pshterate.com/"><img src="Ilmu Tasawuf terhadap Makna Lambang Badge PSHTerate.com.jpg" alt="Ilmu Tasawuf"></a>
Ilmu Tasawuf terhadap Makna Lambang Badge PSHTerate

Jasmani, Rohani, Nurani, Ilahi (coming soon lur) , dan perlu dimengerti bahwa apa yang dipaparkan ini masih dalam kulit luar, dan untuk yang lebih dalam yang terkait hal Ilmu Setia Hati tidak bisa semena mena dipaparkan karena itu memang bersifat Rahasia. Seperti halnya rahasia Pribadi yang mengerti ialah Ilahi sendiri dan meski dalam kehidupan manusia diwajibkan belajar karena memang itu adalah hal kemesraan dari yang menciptakan terhadap yang diciptakan untuk selalu berkesinambungan “…”/.

<a href="https://www.pshterate.com/"><img src="Ilmu Tasawuf pshterate.com Mikrokosmos Makrokosmos Jumeneng Ingsun.jpg" alt="Ilmu Tasawuf"></a>
Ilmu Tasawuf, Mikrokosmos Makrokosmos
4 Kiblat, 5 Pancer (Papat “sekawan” Kiblat “betal makmur”, Kalima “gangsal” Pancer “pusat – betal mukadas”)
Saudara yang sejumlah 4 (Empat), yakni:
  1. Jiwa – Jiwo (pikiran – sak jeroning).
  2. Raga – Rogo (badan – sak jeroning).
  3. Suksma – Suksma (jiwa – sak jeroning).
  4. Rahsa – Rahso Sejati (roh – arwah) | Jagad Raya (Semesta Alam “Mikrokosmos “micro – Jagad Kecil / Cilik” – Makrokosmos “macro – Jagad Besar / Gedhe”).
Selanjutnya saudara 5 (Lima) Pancer dan Nilai Neptunya, yakni:
  1. Bumi, Tanah – Lemah (Pahing) 9.
  2. Api – Geni – Agni (Wage) 7.
  3. Angin – Udara (Kliwon) 8.
  4. Air – Banyu “nur maj’di” (Pon) 4.
  5. Matahari – Surya – Suryo (Legi) 5.
Saudara yang terawat maupun yang tidak terawat “sedhulur kang kerumat lan ora kerumat”
Struktur Istilah Jenjang Pendidikan :
  1. Pendidikan Usia Dini : Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal.
  2. Pendidikan Dasar 1-6 : Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah.
  3. Pendidikan Dasar 7-9 : Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTS).
  4. Pendidikan Menengah 10-12 : Sekolah Menengah Atas (SMA), Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah.
  5. Pendidikan Tinggi : Perguruan Tinggi Akademi, Institut, Politeknik, Universitas, Madrasah Aliyah Kejuruan.
Keseluruhnya telah hidup jadi satu di dalam kandungan ibu, silahkan kita menghadap ke kekuasaanNya, minta ijinNya supaya kita dipermudahkan dalam pelajari ilmu Tasawuf Jawi.
Beberapa nenek moyang di kehidupan di bumi ini sudah banyak memberi contoh panutan. Kondisi kehidupan yang paling kompleks ini sebagai karena kita harus menyaksikan secara luas dan berlaku arif. Telah banyak kitab suci dan tuntunanNya didalami oleh manusia. Tapi ilmu tasawuf jawi ini tersisip belum didalami dan ditemui. Maka dari itu, lewat media ini saya catat dan saya suguhkan agar dapat jadi pendamping evaluasi dan sekalian jaga tradisi dan kebudayaan Jawa. Jawa di sini saya definisikan sebagai “mbeneh” (tatakrama atau budi pekerti Jawa), jadi tidak berarti suku Jawa saja yang dapat pelajarinya. Ilmu tasawuf jawi ini dapat didalami oleh siapa yang ingin perdalam pengetahuan religiusnya.
Pada intinya Ilmu Tasawuf Jawi ini mempunyai beberapa Konsep Dasar, yakni:
  • Ketulusan Hati;
  • Kejujuran;
  • Kebersihan;
  • Kerendahan hati;
  • Kesabaran;
  • Keseriusan;
  • Kebersama-samaan.
Dengan pahami dan mengaplikasikan beberapa prinsip ini di kehidupan setiap hari, diharap kita bisa capai kesucian jiwa dan jadi lebih dekat sama Yang Maha Kuasa. Disamping itu, ilmu tasawuf jawi mengajari mengenai kebaikan dan terburukan, dan langkah jalani kehidupan sesuai bimbingan Yang Maha Kuasa.
Mudah-mudahan ilmu tasawuf jawi ini menjadi sumber ide dan pengetahuan untuk kita saat menjalankan kehidupan di dunia ini. Selebihnya memang sudah tiba waktunya untuk kita untuk pelajari ilmu pengetahuan mengenai budaya Jawa yang telah lama terlewatkan. Kenapa budaya kita tidak menjadi tuan-rumah di negara sendiri? Tetapi, tuntunan lain menggantikan dan menghancurkan tradisi budaya kita. Ini maknanya: “tamu atur tuan-rumah”, yang serupa dengan menjajah. Budaya dan tradisi kita telah betul-betul dijajah, sebagai beban untuk aktor tradisi.
Maka dari itu, mari kita bersama merealisasikan kembali ilmu tasawuf Jawa dengan benar-benar supaya budaya kita menjadi tuan-rumah di negara kita. Ingat, kita telah mempunyai modal sendiri, yakni wahyu Yang Maha Kuasa berbentuk huruf Jawa yang ada pada 20 jemari kita, diwujudkan dalam penanggalan Jawa asli dan gamelan (cuma ada dua di bumi ini).
Jamus-jamus Kalimasada dan yang lain, banyak yang hendak saya berikan. Bila beberapa pimpinan siap memberi contoh, saya percaya akan diwujudkan secara cepat. Mudah-mudahan Si Maha Pembuat Jagad merestui.
<a href="https://www.pshterate.com/"><img src="Ilmu Tasawuf Black Hole Actual Hubble.jpg" alt="Ilmu Tasawuf"></a>
Ilustrasi Ilmu Tasawuf terhadap Tata Surya Jagad Gede “Mkrokosmos”

Ilmu Tasawuf mengenal Jati Diri

Yang Maha Tunggal bersama semua Perintah Ciptaannya dengan Keadaan yang terjadi sampai saat ini semua ialah utusan Yang Maha Tunggal, baik yang kelihatan atau yang tidak kelihatan. Ada dua perintah ciptaan Yang Maha Tunggal, yakni:
Perintah Khusus (Primer, “tinitah/titah”)
Yakni perintah yang tidak mati (danyang) yang disebut perintah lembut.
Saat sebelum Yang Maha Tunggal membuat yang ada bukan berarti tidak ada, karena hal tersebut sifatnya diistilahkan seperti “ada tapi seperti tidak ada, tidak ada namun ada” sehingga hal ini bersifat rahasia dan diluar jangkauan makhluk jika untuk menelaan maka dalam mempelajari Ilmu Tasawuf yang sebagai parameter dalam Islam atau pun dari Ilmu Titen (yang sebenarnya hal ini juga disebut Islam, hanya saja sebelumnya pengetahuan ini mendasar dari Ilmu Kaweruh namun Wisik tersebut juga dari Sir ananing Dzat yang Maha Suci). Selanjutnya meliputi kejadian pengadaan Alam semesta raya ini dengan perintah khusus (primer) yang berbentuk perintah lembut yang menjadi dapat terlihat terdiri dari bumi – anah, air – banyu, api – geni/agni, angin – udara dan matahari. Perintah kang tinitah lembut dari tanah menjalankan kerjanya membuat tanah dan bertanggung jawab mengawasi hingga saat ini, begitupun perintah lembut lainnya untuk melakukan pekerjaan dan tanggung jawabnya masing – masing.
Sesudah perintah atau tertitahkan khusus yang berbentuk Tanah, air, api, angin dan Matahari dan semua penghuninya siap, karena itu baru Yang Maha Tunggal membuat perintah sekunder (pendamping atau tambahan).
Perintah Sekunder (Pendamping atau Tambahan “tinitah/titah”)
Yakni perintah yang telah lebih prima yang mempunyai beberapa ciri serba lima yakni:
  1. Di dunia ini, manusia telah diciptakan dengan lima variasi warna kulit yaitu putih, kuning, cokelat, merah, dan hitam, yang tersebar di seluruh lima benua. Selain itu, manusia dilengkapi dengan lima panca indra.
  2. Untuk memperoleh pengalaman yang lebih luas dan mendalam, manusia dikaruniai lima indra, yaitu penglihat, pendengar, penciuman, perasa, dan peraba. Namun, demi meningkatkan kemampuan menjelajahi dunia yang ada di sekitarnya, lima jari juga ditambahkan sebagai alat tambahan. Dengan demikian, manusia memiliki total sepuluh alat indera yang dapat membantunya memahami dan menyelami dunia ini.
  3. Manusia dikaruniai lima jari pada kedua tangan dan kakinya. Dengan demikian, manusia sudah memiliki segala yang dibutuhkan untuk hidup di dunia ini. Namun, masih ada satu hal lagi yang harus ditentukan, yaitu jenis kelamin. Setelah diciptakan, manusia ditempatkan di dunia dan dibagi ke dalam lima benua. Di sana, manusia harus menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku di bumi.
  4. Manusia ditempatkan di salah satu dari lima benua yang ada di dunia ini, tergantung pada warna kulitnya. Orang-orang yang berkulit putih tinggal di benua Eropa, orang-orang yang berkulit kuning di benua Asia, orang-orang yang berkulit coklat di benua Australia, orang-orang yang berkulit merah di benua Amerika, dan orang-orang yang berkulit hitam di benua Afrika. Di dunia ini, terdapat dua kutub, yaitu kutub utara dan selatan, yang masing-masing mewakili pola medan magnet positif dan negatif. Setiap benih manusia yang turun ke bumi akan terpengaruh oleh medan magnet ini, sehingga terbagi menjadi dua. Benih yang lebih kuat tertarik ke kutub selatan akan menjadi laki-laki dengan pola medan magnet negatif, sedangkan benih yang lebih kuat tertarik ke kutub utara akan menjadi perempuan dengan pola medan magnet positif. Setiap benua memiliki perbandingan jenis kelamin yang berbeda-beda, yang tentunya merupakan keputusan adil dari Sang Pencipta yang Maha Adil.
  5. Di Pulau Jawa, terdapat lima nama hari yang disebut “panca wara” atau “pasaran”. Nama-nama hari tersebut adalah Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi. Nama-nama tersebut diambil dari petunjuk para pancer yang meliputi lima elemen alam, yaitu Bumi (Pahing), Air (Pon), Api (Wage), Angin (Kliwon), dan Matahari (Legi). Ketika hari-hari itu dijadikan acuan untuk menentukan jadwal kegiatan, maka akan tercipta siklus yang unik dan berbeda dari siklus hari biasa yang terdapat di daerah lain.

Seluruh poin yang disebutkan di atas merupakan parameter atau kata kunci dasar dari ilmu tasawuf, yaitu ilmu yang mempelajari cara mengenal diri dan berhubungan dengan Tuhan. Tujuan akhir dari ilmu ini adalah untuk bertemu dengan Sang Ilahi atau dzat yang sejati. Dengan memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam poin-poin tersebut, seseorang dapat mencapai tingkat pemahaman yang lebih dalam mengenai diri dan hubungannya dengan Tuhan.

  1. Japa: Meminta ke Si Maha Berkuasa atas semua hal yang telah dibuat sehingga dapat tercipta.
  2. Mantra: Bacaan yang kita tujukan ke Si Maha Berkuasa dalam Pembuatan.
  3. Guna: Kekuatan yang melahirkan Kesaktian.
  4. Sarana: Kecerdasan yang melahirkan Kesaktian (Linuweh, Kualitas Manusia).
  5. Sabda: Kecerdasan yang melahirkan Kekuatan Pembaruan menuju Kesempurnaan (prima).
Selainnya yang disebutkan sebelumnya kita dikasih lima jenis ilmu tasawuf yakni Japa, Mantra, Guna, Srana dan Sabda. Bila dimisalkan dengan sekolah umum di zaman saat ini hampir serupa dengan Taman Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Peratama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA / STM), Siswa Jenjang Pasca Sajarna (maaf tidak menggunakan kata “maha” “siswa” dan kalau dii pondok pesantren “salaf” Madrasah, Sanawiyah, Aliyah,. Berlainan tingkat sekolahnya berlainan juga kekuatannya.
Ilmu Tasawuf (atau ilmu sufi) ialah ilmu religius yang mengajari mengenai langkah capai kesadaran yang semakin tinggi dengan terkait langsung dengan Yang Maha Esa. Ilmu ini mengutamakan pada keintiman dengan Tuhan lewat meditasi, pengaturan diri, dan dedikasi. Ilmu tasawuf sebagai sisi dari beberapa ilmu religius yang berada di dunia dan mainkan perAN AKTOR UTAMA DALAM BERBAGAI TRADISI SPIRITUAL DI BERBAGAI BELAHAN DUNIA. Ilmu tasawuf bisa diketemukan dalam tuntunan-ajaran agama seperti Islam, Hinduisme, dan Budhisme, dan dapat diketemukan di luar tuntunan-ajaran agama itu. Beberapa sufi kerap dipandang seperti beberapa orang yang religius yang tinggi dan disegani dalam masyarakat, dan ilmu tasawuf sudah mainkan peranan penting dalam perubahan budaya dan kebudayaan di beberapa penjuru dunia.
<a href="https://www.pshterate.com/"><img src="Ilmu Tasawuf. Illustration of the Structure of the Solar System seen from above PSHTerate.com.jpg" alt="Ilmu Tasawuf"></a>
Ilmu Tasawuf. Illustration “pancer”of the Structure of the Solar System seen from above

Berikut aturan dalam Ilmu Tasawuf

Aturan Bersembah ke Yang Maha Tunggal dalam Ilmu Tasawuf Jawa : Dalam bersembah ke Yang Maha Tunggal, janganlah sampai telat karena Yang Maha Pembuat tidak inginkan disembah dengan terlalu berlebih. Yang Maha Tunggal ialah maha bersahaja, dalam menyembah kepadaNYa harus kelihatan benar-benar simpel, Yang Maha Tunggal tidak memberi perintah yang memperberat, seakan-akan Yang Maha Tunggal siap tidak untung saat memberi kehidupan ke kita. Hal yang jangan kita lupakan saat menyembahNya ialah ajak empat saudara dan ke-5 pancer untuk bersama meminta menghadap ke kekuasaan Si Maha Pembuat Jagad.

Adapun aturan Bersembah untuk mengapai Ilmu Tasawuf Jawa

  • Dengan keseriusan dan rendah hati ke Yang Maha Santun.
  • Baju tidak jadi permasalahan yang perlu asal bersih, rapi, dan santun, terkecuali dalam upacara yang berseragam karena itu harus patuh pada perintah.
  • Situasi sunyi, baik tata lahir atau batin.
  • Minta ke empat Saudara dan Lima Pancer bersatu dalam guo garba (sejiwa, berpadu solid dalam rasa).
  • Sikap bersembah, menghadap kemana sajakah, paling utama ke timur ikuti perputaran bumi. Muka melekat ke tanah/lantai/rumput-rumputan tanpa alas apa saja tidak untuk kurangi rasa hormat ke Si Maha Pembuat.
  • Prioritaskan saat sebelum tidur malam karena jam tidur harus menyerah diri dan tidak paham apapun, tetapi bila kondisi memenuhi lain waktu tidak jadi masalah.
  • Saat bersembah jangan minta apa saja ke Si Maha Pembuat Jagad, minta bias setiap saat, janganlah sampai bertepatan dengan bersembah. Sedikit waktu untuk bersembah janganlah sampai digabungi atau terganggu oleh keinginan.
  • Sebisa-bisanya berikan rasa hormat ke BELIAU, buang semua hati baik atau jelek, rasa kebingungan, suka, dan kesal, yang ada hanya rasa fresh, jelas tanpa beban apa saja.

Arah Bersembah guna mengapai Ilmu Tasawuf Jawa

Arah bersembah ke Si Maha Pembuat tidak terbatasi, dimanapun Anda ada bila masih tetap ada kehidupan disitu tentu ada Si Maha Pembuat, jadi Anda tak perlu sangsi menghadap bersembahNYA, pada kondisi apa saja Si Maha Pembuat harus dikenang dalam hati, karena dimana saja Anda ada Si Maha Pembuat akan menuntun Anda, yang perlu selalu merapat diri kepadaNya. Banyak titah yang meminta kepadaNya, tetapi salah tata kramanya justru jadi memerintah Si Maha Pembuat.

Aturan Langkah Bersembah agar segera mencapai Ilmu Tasawuf Jawa

Untuk tujuan berperilaku menyembah atau menjunjung tinggi Yang Maha Kuasa dengan harapan atas niat yang dipanjatkan agar dapat segera diberikan penerangan dari Ilahi melalui tataran Ilmu Tasawuf yang dijalani, berikut ini tata langkah yang bisa dituruti:
  • Berdiri tegak menghadap ketimur, dengan ke-2 telapak tangan melekat diperut di bawah pusar.
  • Longgarkan napas lebih dulu, lalu ambil napas debanyak-banyak kali, selanjutnya mengeluarkan napas paling akhir dan tahan sekeras kemungkinan sekalian membaca dalam hati: “kalih[dhateng] kawan saudaranipun kula, sukma sedayanipun, jiwa sedayanipun, raga sedayanipun, lan jagad seisinipun. kaping gangsal pancer siti , toya, latu, angin, lan srengenge[SURYA] seisinipun menyatu lebet gua garba, mangga[sumangga] sareng-sareng majeng sang pencipta jagad”
  • Selanjutnya, menyembah dan membaca dalam hati: “kalih[dhateng] junjunganipun kula ingkang maha kuwaos pencipta, cipta, karsa, raos, semesta alam raya seisinipun , sareng raga, jiwa, suksma, rahsa lan alam saisining kula serah pribadi ingsun kang jumeneng wonten lebet wados kalih[dhateng] sampeyan[PANJENENGAN] sang maha gadhah[KAGUNGAN] kuwaos inggil segala-galanipun”
  • Sesudah menyembah, duduk bersila dengan ke-2 telapak tangan digabungkan dimuka hidung. Tanpa membaca apa saja, cuma konsentrasi dan benar-benar menghadap Si Pembuat sekalian berolah napas seperlunya.
Selainnya tata langkah bersembah yang sudah disebut sebelumnya, ada banyak tambahan yang bisa dilaksanakan untuk perdalam rasa hormat dan kepatuhan ke Yang Maha Tunggal. Berikut beberapa misalnya:
  1. Lakukan puasa sesuai keyakinan masing-masing.
  2. Berziarah ke pusara atau tempat suci yang dipercaya sebagai tempat tempat tinggal Yang Maha Tunggal.
  3. Perbanyak membaca kitab suci atau doa-doa yang dipercaya bisa dekatkan diri pada Yang Maha Tunggal.
  4. Ikuti beberapa kegiatan keagamaan seperti beribadah sholat, zikir, dan lain-lain.
  5. Berlaku rendah hati dan runduk ke beberapa keputusan yang diberi Yang Maha Tunggal, baik yang membahagiakan atau yang tidak membahagiakan.
  6. Dengan lakukan beberapa tindakan tertera di atas, diharap bisa tingkatkan rasa kepatuhan dan ketaatan ke Yang Maha Tunggal dan menjadi individu yang lebih dekat sama Tuhan.
Ketika menyembah tidak perlu seperti orang yang mengekspos kebaikan, tapi semestinya saja. Jangan menyembah seperti orang yang mabuk, betul-betul mabuk itu bukan Karena hanya minuman keras saja, tapi apa yang ada dijagad ini bias membuat orang mabuk terhitung menyembah kepadaNya. Sebenarnya Sang Hyang Maha Tunggal dan Teragung tidak memerlukan dipuja sembah dengan sikap penghormatan yang terlampau berlebihan namun memang sebagai Insan Makhluknya kita diwajibkan untuk bersungguh melakukan ibadah kepadanya dan menghormati makhluk yang menjadi junjungan umat yg diturunkan di bumi karena untuk meneruskan pesan titah dari yang Maha Tunggal tersebut. (Esa -“Dwi, Catur dsb” dan Tunggal tiada dua, lain atau bandingannya).
Jadi saya berharap seadanya saja jika akan menyembahNya, 1x kembali jangan meminta apa ketika menyembah, nantinya seterusnya silakan. Demikian cantiknya jagad ini bila beberapa titah sudah menyembah bertepatan dengan Tanah, air, api, udara dan matahari dan Demikian senangnya Sang Maha Pembikin melihat semua titahNya bersatu kompak, tidak ada yang sombong, Baik yang riil atau yang tidak riil.
Beribu terimaksih dari tergerak hati atas dasar pengetahuan dan dipikir dan dirasa dihaturkan kepada semua Insan Kamil yang diharapkan atas rangkuman singkat terkait Ilmu Tasawuf ini memberikan dampak baik hingga setiap waktu dapat diresapi dan menelaan guna tergerak menjalankan kebaikan. Perlu diketahui terkait permohonan yang sifatnya meminta jangan memaksa kehendakNya karena semua sudah tertulis di lauful mahfudz, namun karena keterbatasan sebagai insan kamil hal ini untuk mengerakkan muhasabah perbaikan pribadi secara berkelanjutan “continue”.
<a href="https://www.pshterate.com/"><img src="Ilmu Tasawuf Science Supernova Solar System Ilustration pshterate.com.jpg" alt="Ilmu Tasawuf"></a>
Ilmu Tasawuf Science Supernova Solar System Ilustration

Catatan Tentang “ILMU TASAWUF”

꧋ꦏꦺꦥꦢꦌꦩ꧀ꦥꦠ꧀ꦱꦈꦢꦫꦏꦸꦗꦶꦮ꧈ꦫꦒ꧈ꦱꦸꦏ꧀ꦱ꧀ꦩ꧈ꦚꦮꦱꦺꦂꦠꦭꦶꦩꦪꦁꦱꦺꦧꦒꦆꦥꦚ꧀ꦕꦺꦂꦪꦁꦢꦶꦱꦺꦧꦸꦠ꧀ꦠꦤꦃ꧈ꦄꦆꦂ꧈ꦄꦥꦶ꧈ꦄꦔꦶꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦩꦠꦲꦫꦶꦪꦁꦩꦺꦭꦶꦥꦸꦠꦶꦱꦺꦪꦶꦱꦶꦄꦭꦩ꧀ꦱꦺꦩꦺꦱ꧀ꦠꦩꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ꦩꦺꦚꦠꦸꦭꦃꦢꦭꦩ꧀ꦒꦸꦮꦒꦂꦧ꧈ꦢꦤ꧀ꦩꦫꦶꦧꦺꦂꦱꦩ-ꦱꦩꦩꦺꦁꦲꦢꦥ꧀ꦱꦁꦩꦲꦠꦸꦁꦒꦭ꧀ꦱꦺꦗꦠꦶ

“kalih[dhateng] kawan saudaranipun kula jiwa, raga, suksma, nyawa saha gangsal ingkang dados pancer ingkang dipunsebat siti , toya, latu, angin lan srengenge[SURYA] ingkang ngliputi saisining alam semesta nedha[NYUWUN] menyatulah lebet gua garba, lan mangga[sumangga] sareng-sareng majeng sang maha tunggal sejatos”

“Kepada Empat Saudaraku Jiwa, Raga, Suksma, Nyawa serta Lima yang sebagai Pancer yang disebut Tanah, Air, Api, Angin dan Matahari yang meliputi seisi Alam Semesta mohon menyatulah dalam Gua Garba, dan mari bersama-sama menghadap Sang Maha Tunggal Sejati”

꧋ꦏꦺꦥꦢꦗꦸꦚ꧀ꦗꦸꦔꦤ꧀ꦏꦸꦪꦁꦩꦲꦏꦸꦮꦱꦥꦺꦚ꧀ꦕꦶꦥ꧀ꦠ꧈ꦕꦶꦥ꧀ꦠ꧈ꦏꦂꦱ꧈ꦫꦱ꧈ꦱꦺꦩꦺꦱ꧀ꦠꦄꦭꦩ꧀ꦫꦪꦱꦺꦪꦶꦱꦶꦚ꧈ꦧꦺꦂꦱꦩꦫꦒ꧈ꦗꦶꦮ꧈ꦱꦸꦏ꧀ꦱ꧀ꦩ꧈ꦫꦃꦱꦢꦤ꧀ꦄꦭꦩ꧀ꦱꦺꦪꦶꦱꦶꦚꦱꦪꦱꦺꦫꦃꦥꦿꦶꦧꦢꦶꦆꦁꦱꦸꦤ꧀ꦏꦁꦗꦸꦩꦺꦤꦺꦁꦢꦶꦢꦭꦩ꧀ꦫꦲꦱꦶꦪꦏꦺꦥꦢꦌꦁꦏꦈꦱꦁꦩꦲꦧꦺꦂꦏꦸꦮꦱꦄꦠꦱ꧀ꦱꦺꦒꦭ-ꦒꦭꦚ

“kalih[dhateng] junjunganipun kula ingkang maha kuwaos pencipta, cipta, karsa, raos, semesta alam raya seisinipun , sareng raga, jiwa, suksma, rahsa lan alam saisining kula serah pribadi ingsun kang jumeneng wonten lebet wados kalih[dhateng] sampeyan[PANJENENGAN] sang maha gadhah[KAGUNGAN] kuwaos inggil segala-galanipun”

“Kepada Junjunganku Yang Maha Kuasa Pencipta, Cipta, Karsa, Rasa, Semesta Alam Raya seisinya, bersama Raga, Jiwa, Suksma, Rahsa dan Alam seisinya saya serah pribadi Ingsun kang Jumeneng di dalam rahasia kepada Engkau Sang Maha Berkuasa atas segala-galanya”
Tentang ILMU TASAWUH “JAWA (jawi, nusa dwipa)” dalam pemaknaan kata bahasa “TASAWUF” dalam budaya komunikasi Leluhur Jawa ialah “sunyata/su·nya·ta/ Jw n, kesunyataan/ke·su·nya·ta·an/ n kebenaran atau kenyataan (dalam ilmu tasawuf atau agama): alam -; ilmu -“
ta.sa.wuf
⇢ Tesaurus
Etimologi: [Informasi etimologi hanya tersedia bagi pengguna terdaftar]
n ajaran (cara dan sebagainya) untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan-Nya: ilmu –; mengaji —

<a href="https://www.pshterate.com/"><img src="Ilmu Tasawuf Hubble Mosaic of the Majestic Sombrero Galaxy.jpg" alt="Ilmu Tasawuf"></a>

Ilmu Tasawuf Hubble Mosaic of the Majestic Sombrero Galaxy

Cara Mencapai Ketaqwaan dalam Persaudaraan Setia Hati Terate

Syariat, thoriqoh, hakikat, dan makrifat merupakan istilah-istilah dalam ilmu setia hati, yang digunakan dalam organisasi bela diri pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate. Syariat mengacu pada hukum-hukum agama yang harus diikuti, thoriqoh merujuk pada jalan atau metode untuk mencapai ketaqwaan, hakikat mengacu pada kebenaran spiritual yang sebenarnya, dan makrifat adalah pemahaman atau pengetahuan spiritual yang dalam. Semua istilah tersebut digunakan dalam perjalanan spiritual seseorang dalam organisasi ini untuk mencapai ketaqwaan dan kedekatan dengan Tuhan.

Insan Kamil, Syariat, Thoriqoh, Hakekat, Makrifat

  1. Individu Kamil ialah istilah yang dipakai dalam adat religius untuk memvisualisasikan seorang yang sudah capai kesempurnaan religius. Individu Kamil dipercaya sudah capai kesadaran yang tinggi dan bisa capai hubungan dengan Tuhan.
  2. Syariat ialah istilah yang dipakai dalam agama Islam untuk memvisualisasikan ketentuan atau hukum yang perlu dituruti oleh umat Muslim. Syariat meliputi aspek keagamaan seperti beribadah, adab, dan hukum.
  3. Thoriqoh ialah istilah yang dipakai dalam adat religius untuk memvisualisasikan jalan atau sistem yang dipakai untuk capai kesadaran religius yang semakin tinggi. Thoriqoh bisa berbentuk meditasi, doa, atau praktik-praktik religius yang lain.
  4. Hakekat ialah istilah yang dipakai dalam adat religius untuk memvisualisasikan kebenaran atau akar dari suatu hal.sebuah hal. Hakekat bisa diaplikasikan pada Tuhan, diri kita, atau dunia.
  5. Makrifat ialah istilah yang dipakai dalam adat religius untuk memvisualisasikan pengetahuan atau pengetahuan mengenai Tuhan. Makrifat dipercaya bisa mengakibatkan hubungan dengan Tuhan dan capai kesadaran yang semakin tinggi.

Ilmu Spiritual Tasawuf: Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat

Tasawuf merupakan ilmu spiritual yang mengajarkan tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Terdapat empat konsep utama dalam tasawuf, yaitu syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Syariat adalah hukum Islam yang harus dipatuhi oleh setiap muslim. Tarekat merupakan jalan atau metode untuk mencapai kesempurnaan spiritual. Hakikat adalah pengalaman spiritual yang dihasilkan dari praktik tarekat. Sedangkan makrifat adalah pengetahuan atau pengenalan yang mendalam terhadap Allah.

Beberapa tokoh ulama Islam yang terkenal dalam bidang tasawuf adalah Abu al-Qasim al-Qushairi, Ibnu Athaillah al-Iskandari, Imam al-Ghazali, dan Ibnu Arabi. Mereka menulis kitab atau risalah yang membahas tentang tasawuf dan menjadi sumber utama ajaran Islam.

Kitab atau risalah yang terkenal di antara karya-karya para tokoh tersebut adalah Risalah Qushairiyah, Al-Hikam, Ihya Ulumuddin, dan Fusus al-Hikam. Setiap karya tersebut memiliki arti dan makna yang mendalam dalam memahami tasawuf.

Penting untuk mempelajari kitab-kitab tersebut karena di dalamnya terdapat anjuran agar mempelajari kitab di luar Al-Qur’an sebagai sumber utama pedoman untuk pengajaran Islam. Kitab-kitab tersebut juga memberikan panduan bagi umat Islam dalam memahami dan mempraktikkan ajaran tasawuf.

Dalam memahami tasawuf, juga penting untuk memahami perbedaan antara sufisme dengan cendekiawan, filosof, dan teolog. Sufisme lebih menekankan pada pengalaman spiritual daripada pemikiran rasional atau teologis. Namun, hal ini tidak mengabaikan pentingnya ilmu pengetahuan dan pemikiran dalam memahami tasawuf.

Dalam menjalani kehidupan spiritual, juga penting untuk memperhatikan keseimbangan antara aspek fisik dan spiritual. Praktik-praktik tasawuf, seperti dzikir, tafakkur, dan muhasabah diri, dapat membantu individu dalam mencapai kesempurnaan spiritual dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Wirid Hidayat Jati

Ilmu Tasawuf terkait Wirid Hidayat Jati ialah sebuah doa atau bacaan yang dipercaya bisa memberi hidayah atau panduan di dalam meraih kesadaran religius yang semakin tinggi. Wirid ini dipercaya bisa menolong dalam tingkatkan kualitas diri dan capai kesadaran yang lebih dalam. Tetapi, saat sebelum lakukan wirid Hidayat Jati, seorang harus mendapatkan saran atau pengajaran religius yang cukup dari pengetahuan mengenai fokus individu dari yang dibuat pada yang membuat, yakni Tuhan. Doa atau bacaan wirid ini dibaca dengan teratur dan dibarengi dengan meditasi atau pemikiran yang positif. Wirid Hidayat Jati diharap bisa menolong seorang untuk capai kesejahteraan hidup yang lebih bagus, kenyamanan batin, dan kesadaran yang semakin tinggi.

Sedulur Papat Limo Pancer

Sedulur Papat Limo Pancer berkaitan tentang Thoriqoh dalam mempelajari dengan cara menganggu terhadap Ilmu Tasawuf yang diajarkan secara turun temurun oleh leluhur kakek neyeng moyang yang secara kiasnya disebut Ilmu Titen yang dalam artian dalam Islam ialah Ilmu Falaq.

Sesotya Aran Dharah

Ide Religius yang dikenali sebagai Sesotya Aran Dharah atau Berlian Namanya Darah. Ide ini menyangkutkan berlian dengan perputaran darah manusia dan mengatakan jika berlian pancarkan sinar beragam warna dan dihubungkan dengan darah yang mengucur di sekujur badan fisik manusia. Darah dipandang seperti pembawa Budi yang disebut kesadaran atau pengetahuan diri, ruangan, dan waktu. Perputaran darah dipercaya kuat hubungannya dengan kesadaran, bila perputaran darah lancar dan konstan karena itu kesadaran konstan, bila perputaran darah alami permasalahan karena itu kesadaran akan dipengaruhi. Dalam artikel ini diterangkan mengenai realisasi dari Budi yang terbagi dalam Karmendriya, Antarendriya, dan Jayendriya.

Ilmu Tasawuf: Mengungkap Rahsa Sejati Sifat Tuhan dalam Diri Manusia

Ilmu Tasawuf mengajarkan tentang hubungan yang erat antara manusia dan Tuhan. Konsep Manusia sebagai Rahsa Tuhan dan Tuhan sebagai Rahsa manusia memperlihatkan bahwa setiap sifat atau karakter Tuhan dapat diwujudkan dalam diri manusia. Dalam artikel ini, saya menjelaskan bagaimana Bumi, Api, Angin, Air, Nur, Rahsa, Ruh, Nafs, dan Budi dianggap sebagai realisasi Karakter Tuhan yang merupakan Rahsa Sejati dari Allah pada diri manusia melalui ilmu tasawuf.

Ilmu Martabat 7 Dalam Tasawuf Hayyu, Nur, Sir, Roh Ilapi, Napsu, Budi, dan Jasad

Ilmu Martabat Tujuh dalam pengetahuan di dalam Ilmu Tasawuf ini menjelaskan terkait Kodrat Iradat Tuhan dalam Tujuh Keadaan: Kayu atau Hayyu, Nur, Sir, Roh Ilapi, Napsu, Budi, dan Jasad, merupakan tujuh keadaan dari Tuhan yang dikenal sebagai Dzat Yang Mahasuci. Tujuh keadaan tersebut diakui sebagai Warana Dat (Tabir Peng-halang Dzat). Kayu (Hayyu) merupakan keadaan hidup, Nur adalah keadaan cahaya, Sir (Sirr) merupakan keadaan rahsa/rasa sejati yang rahasia, Roh Ilapi (Ruh Idlafi) merupakan keadaan yang telah bersandar, disebut Suksma, Napsu (Nafs) merupakan keadaan kepribadian, Budi merupakan keadaan kesadaran jaga, dan Jasad (Badan Fisik) merupakan keadaan yang berada di luar Budi.

Wirid Dhingdhing Jalal Aran Kijab adalah sebuah penyekat agung yang berperan sebagai tirai penghambat. Dhingdhing Jalal atau Jasad sebetulnya cuma satu, namun memiliki dua jenis per-wujudan yaitu Jasad Turab (Jasad Turab) yaitu Tubuh Tanah, yakni tubuh yang terbentuk dari tanah, dan Jasad Latip (Jasad Lathif) yaitu Tubuh Lembut, yakni tubuh Suksma. Saat Dhingdhing Jalal telah terbentuk dengan prima, calon manusia bisa dikatakan sebagai seorang manusia yang siap untuk menjalani kehidupannya dan sekian deskripnya untuk rujukan Ilmu Martabat Tujuh dalam lmu Tasawuf tentang Khadrat Iradat Tuhan tersebut.

Makna, Arti, atau Pengertian Metodologi

  1. Metode penelitian: analisis, desain, teknik, pengumpulan data, validitas, reliabilitas
  2. Metode ilmiah: objektif, sistematis, logis, eksperimental
  3. Penelitian kuantitatif: data numerik, statistik, generalisasi
  4. Penelitian kualitatif: interpretasi, analisis tematik, naratif
  5. Penelitian metode campuran: kuantitatif dan kualitatif, komplementer, inkuiri
  6. Desain eksperimen: kontrol, variabel, hipotesis, generalisasi
  7. Survei: responden, skala, pertanyaan terbuka dan tertutup
  8. Wawancara: naratif, studi kasus, indepth
  9. Studi kasus: analisis kasus, detail, individu atau kelompok
  10. Teori berdasarkan pengalaman: kategori, konsep, emergensi
  11. Penelitian tindakan: pengembangan, perubahan, intervensi
  12. Etnografi: budaya, tradisi, kebiasaan
  13. Fenomenologi: pengalaman, persepsi, kesadaran
  14. Teori berdasarkan pengalaman: kategori, konsep, emergensi
  15. Penelitian historis: sejarah, peristiwa, kronologi
  16. Analisis isi: teks, media, dokumen
  17. Penelitian perbandingan: komparasi, analisis perbandingan, perbedaan
  18. Penelitian longitudinal: perubahan dalam waktu, dinamika, perkembangan
  19. Penelitian potong lintang: cross section, snapshot, situasi saat ini
  20. Triangulasi: metode ganda, validasi, perspektif
  21. Pengumpulan data: observasi, dokumentasi, kuesioner
  22. Analisis data: deskriptif, inferensi, analisis statistik
  23. Sampling: sampel, representatif, teknik pemilihan sampel
  24. Validitas: keabsahan, ukuran, instrumen
  25. Reliabilitas: konsistensi, stabilitas, instrumen
  26. Generalisabilitas: generalisasi, validitas eksternal, populasi
  27. Replikabilitas: ulangan, uji coba, hasil yang dapat diulang
  28. Objektivitas: tidak subjektif, obyektif, tidak berpihak
  29. Subjektivitas: persepsi, opini, pandangan
  30. Paradigma: filsafat, kerangka, perspektif

Topik Metodologi

  1. “Metode Penelitian dalam Penelitian Sosial”
  2. “Aplikasi Metode Ilmiah dalam Penelitian”
  3. “Analisis Kuantitatif dalam Penelitian Behavioural”
  4. “Interpretasi Kualitatif dalam Penelitian Kualitatif”
  5. “Implementasi Metode Campuran dalam Penelitian”
  6. “Desain Eksperimen dalam Penelitian Psikologi”
  7. “Implementasi Survei dalam Penelitian Demografi”
  8. “Analisis Wawancara dalam Penelitian Kualitatif”
  9. “Studi Kasus dalam Penelitian Pendidikan”
  10. “Pengembangan Teori Berdasarkan Pengalaman dalam Penelitian Sosial”
  11. “Penelitian Tindakan dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan”
  12. “Etnografi dalam Penelitian Budaya”
  13. “Fenomenologi dalam Penelitian Kesejahteraan Mental”
  14. “Pengembangan Teori Berdasarkan Pengalaman dalam Penelitian Organisasi”
  15. “Penelitian Historis dalam Sejarah Ekonomi”
  16. “Analisis Isi dalam Penelitian Media”
  17. “Penelitian Perbandingan dalam Studi Global”
  18. “Penelitian Longitudinal dalam Perkembangan Anak”
  19. “Analisis Potong Lintang dalam Penelitian Sosial”
  20. “Triangulasi dalam Penelitian Kepercayaan”
  21. “Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Sosial”
  22. “Analisis Data dalam Penelitian Kesehatan”
  23. “Sampling dalam Penelitian Politik”
  24. “Validitas dalam Penelitian Pemasaran”
  25. “Reliabilitas dalam Penelitian Psikometri”
  26. “Generalisabilitas dalam Penelitian Sosial”
  27. “Replikabilitas dalam Penelitian Ilmu Lingkungan”
  28. “Objektivitas dalam Penelitian Jurnalistik”
  29. “Subjektivitas dalam Penelitian Seni”
  30. “Paradigma dalam Penelitian Ilmu Sosial”

Hubungan Makrokosmos dan Mikrokosmos dalam Perspektif Ilmu Ketuhanan dalam Islam

Makrokosmos adalah keseluruhan alam semesta yang diyakini sebagai ciptaan Allah yang indah dan sempurna dalam perspektif agama Islam. Makrokosmos dianggap sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah yang dijabarkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Sedangkan Mikrokosmos adalah dunia yang ada di sekitar kita, termasuk manusia dan makhluk hidup lainnya. Dalam perspektif Islam, mikrokosmos diyakini sebagai dunia yang diciptakan oleh Allah untuk diuji umat manusia. Manusia diharuskan untuk menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi ini, yaitu menjaga dan memelihara alam sekitar serta menjalankan perintah-perintah Allah.

Metodologi terhadap Ilmu Tasawuf

Ilmu Tasawuf menggunakan metodologi yang bertujuan untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan melalui berbagai teknik meditasi, pengamatan diri dan ajaran moral yang diajarkan oleh para guru tasawuf. Metodologi ini mencakup berbagai teknik seperti zikir, muraqabah dan dhikr yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan mencapai kedekatan dengan Tuhan.