Sejarah Pencak Silat: Seni Bela Diri Khas Indonesia Materi Ke SH an

Sejarah Pencak Silat

<a href="https://www.pshterate.com/"><img src="Sejarah Pencak Silat: Seni Bela Diri Khas Indonesia Materi Ke SH an.webp" alt="Sejarah Pencak Silat: Seni Bela Diri Khas Indonesia Materi Ke SH an"></a>
Sejarah Pencak Silat sebagai seni bela diri asli Indonesia yang sudah berusia beratus-ratus tahun dan diturunkan secara temurun dari angkatan ke angkatan selanjutnya. Bersamaan dengan perjalanan waktu, tehnik dan pergerakan bela diri ini selalu berkembang dan makin prima.

Sejarah Awal Mula Pencak Silat

Pada kondisi hidup bersebelahan dengan binatang, manusia membandingkan ketidaksamaan di antara manusia dan hewan yang sama cari makan. Di saat itu, manusia mempunyai kekurangan fisik yang paling terang dibanding dengan binatang. Berlainan dengan singa, harimau, serigala, dan binatang yang lain yang mempunyai taring, tenaga yang lebih besar, kuku yang kuat, atau sundul yang lebih besar dan kuat, manusia mempunyai kulit tipis, kukunya pijakl-tumpul, gigi yang tidak tajam, dan tenaga yang tidak sebesar binatang.
Tetapi, manusia mempunyai kelebihan lainnya, yakni kekuatan berpikiran. Tanpa kekuatan berpikiran yang bagus, manusia akan gampang dikonsumsi oleh binatang. Tetapi, karena ada kekuatan berpikiran, manusia jadi kebalikannya hingga binatang jadi tidak dapat makan manusia.
Di jaman prasejarah, otak manusia belum berkembang secara baik hingga hidup manusia terbatas dalam goa, pohon, dan lain-lain. Jika berjumpa dengan binatang buas, manusia cuma bisa memakai tenaganya untuk menantang hewan itu. Karena tenaga manusia kalah dari hewan, manusia kerap kalah dalam perkelahian. Jika menang, keadaan tubuh manusia pasti pada kondisi menanggung derita berat, dan perlu waktu yang lama untuk pulih karena luka-lukanya.

Sejarah Jurus Bela Diri Manusia

Semenjak jaman prasejarah, manusia sudah belajar untuk tetap bertahan hidup di dalam lingkungan yang sarat dengan bahaya dan rintangan. Membuat perlindungan diri dari gempuran binatang buas dan kelaparan, manusia perlu berpikiran inovatif dan memakai otak yang berisi akal untuk membenahi keadaan yang jelek. Salah satunya langkah yang diketemukan dengan meningkatkan jurus bela diri yang selanjutnya diturunkan dari angkatan ke angkatan.
Dalam artikel ini, kami akan membahas riwayat dan asal mula jurus bela diri manusia, dari pertama kali sampai berkembang jadi beberapa tehnik kekinian yang dipakai sekarang ini.

Memakai Batu Sebagai Senjata Awalnya

Saat masih juga dalam tahapan evolusi, manusia memakai batu sebagai senjata pertama untuk menantang binatang buas. Batu dipakai untuk dilempar ke musuh, hingga manusia bisa menghindar gempuran dari jauh.

Mengikuti Pergerakan Binatang

Selainnya memakai batu, juga manusia belajar mengikuti pergerakan binatang saat bertanding. Dalam Organisasi SH Terate, misalkan, jurus-jurus bela diri yang di inspirasi dari pergerakan binatang seperti jurus harimau dan jurus merak.

Meningkatkan Jurus Dasar

Juga manusia belajar dari pergerakan kera untuk menghindar gempuran musuh dan melonjak dari lokasi yang susah dicapai. Disana, manusia selanjutnya meningkatkan jurus dasar seperti menyepak, memukul, dan melonjak.

Membuat Senjata

Untuk percepat proses menaklukkan beberapa lawannya, manusia membuat senjata simpel seperti kayu untuk pentungan, batu lancip untuk mata tombak, dan pisau untuk menggunting. Senjata-senjata ini selanjutnya diperkembangkan jadi senjata kekinian seperti senapan, pedang, dan nunchaku.
Dalam perubahannya, jurus bela diri manusia bukan hanya berperan membuat perlindungan diri dari gempuran binatang buas atau lawan, tetapi dijadikan olahraga dan seni bela diri. Dalam tahun-tahun ini, seni bela diri sudah jadi terkenal di penjuru dunia, dengan fans yang makin banyak dari tahun ke tahun.
Demikian riwayat dan asal mula jurus bela diri manusia. Walau beberapa tehnik kekinian sudah alami banyak peralihan, akar dari bela diri tetap sama, yakni membuat perlindungan diri dan latih badan untuk jadi lebih kuat dan gesit.

Perubahan Pencak Silat

Semenjak itu, manusia tidak gampang ditaklukkan oleh binatang, karena dapat meloncat, menyepak, memukul, dan lain-lain. Untuk percepat proses menaklukkan musuh, manusia membuat senjata seperti kayu untuk pentungan, batu lancip untuk mata tombak, pisau, dan lain-lain. Sesudah peradaban semakin maju, beladiri itu berkembang jadi lebih prima dan senjata yang dipakai makin mengalami perkembangan seperti toya, glati, trisula rampik dan lain-lain. Dan beladiri itu diberi nama pencak Silat.
Pada periode Indonesia terbagi dalam beragam kerajaan, tiap kerajaan mempunyai corak beladiri yang berbeda, dan dipakai sebagai media untuk menghargai beberapa pendekar dan sebagai media peningkatan ketrampilan dan psikis peserta dalam seni bela diri Pencak Silat. Maka dari itu, Pencak Silat jadi sisi dari peninggalan budaya Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan untuk angkatan seterusnya.

Sejarah Asal Berdirinya Pencak Silat

Pencak Silat ialah seni bela diri yang unik dari Indonesia. Dalam perubahannya, Pencak Silat sudah jadi sisi dari kekayaan budaya Indonesia yang dianggap secara internasional. Tetapi, beberapa orang yang belum ketahui asal mula dan riwayat dari seni bela diri yang ini. Berikut saya kutipkan mengenai asal mula berdirinya Pencak Silat dan bagaimana seni bela diri ini berkembang jadi seperti sekarang ini.

Asal mula nama “Pencak Silat”:

  • Prof. Dr. Purbo Caroko dalam bukunya mengatakan jika Pencak Silat diteropong dari pojok berkebangsaan Indonesia.
  • Cerita Jumali menjelaskan jika “pencak” maknanya memasangkan diri dengan pijakan dan tarikan yang lincah-lincah, dan “silat” maknanya memisah diri.
  • Pencak Silat sebagai pergerakan serang dan bela diri:
  • Wongso Negoro dalam bukunya mengatakan jika Pencak Silat ialah gerak serang dan bela diri yang berbentuk tari yang memiliki irama.
  • Atraksi Pencak Silat umumnya dilaksanakan dengan ketentuan tradisi kesopanan tertentu, untuk umum atau khalayak.

Pencak Silat sebagai seni bela diri:

Silat sebagai pokok sari dari Pencak Silat sebagai seni bela diri yang habis-habisan dilaksanakan untuk bela diri. Tetapi, beberapa gerakan Pencak Silat dapat ditampilkan di muka umum sebagai wujud budaya dan seni Indonesia.
Ringkasannya, Pencak Silat ialah seni bela diri ciri khas Indonesia yang sudah berkembang sepanjang beberapa ratus tahun. Seiring berjalannya waktu, Pencak Silat bukan hanya jadi sisi dari kebudayaan dan adat Indonesia, tapi juga menebar ke beragam negara di penjuru dunia.

Pergerakan Pencak Silat Indonesia

Pahami Ciri-Ciri dan Keberagaman di Semua Wilayah berkaitan Pencak Silat sebagai seni bela diri yang berkembang luas di Indonesia dan sebagai sisi dari budaya rakyat dan tradisi istiadat suku bangsa Indonesia. Di beberapa wilayah di Indonesia, Pencak Silat saat ini masih memiliki peran penting pada kagiatan upacara tradisi dan dijaga kelestariannya lewat sesepuh-sesepuh warga di tempat. Walau ada beragam saluran Pencak Silat di Indonesia, pada intinya beberapa ciri umum yang dipunyai ialah seperti berikut:
  1. Memiliki sifat lentur, lembut dan lemas namun tetap memakai tenaga di saat tertentu.
  2. Tidak memerlukan banyak ruangan.
  3. Lebih memprioritaskan menghindari, mengalihkan gempuran musuh dan mengamankan daripada menabrakkan tenaga.
  4. Banyak memakai tenaga musuh dengan manfaatkan kesetimbangan tubuh dan saat di mana musuh sedang dalam status tidak imbang, hingga bisa mengirit tenaga.
  5. Sikap tangan selalu dekat sama tubuh, terkecuali saat lakukan serangan.
  6. Pergerakan kaki, angkatan dari sepakan tidak begitu tinggi dan sedikit permainan tengah dan bawah.
  7. Pernapasan lumrah dan sedikit memakai suara (saat lakukan gempuran/tangkisan tidak berteriak).
  8. Banyak tarian enteng pada langkah dan enteng.
  9. Sikap selalu tenang dan rileks tapi masih tetap siaga.
  10. Menggunakan kecepatan, keakuratan, dan kegesitan.
Walau ada beberapa ciri umum sama seperti yang sudah disebut sebelumnya, tiap wilayah di Indonesia mempunyai keunikan yang lain, yang disebabkan karena dampak budaya, kondisi daerah, personalitas, dan pengajaran di tempat. Misalkan, wilayah pesisir memiliki ciri-ciri khusus yang lain dengan wilayah pegunungan. Di wilayah perkotaan, banyak saluran Pencak Silat yang sudah ambil beberapa unsur pergerakan dasar bela diri luar negeri, hingga beberapa ciri umum yang ada di Pencak Silat asli sedikit kelihatan kembali dan pergerakan jadi kaku dan patah-patah dan lebih mengutamakan kemampuan.
Sebagai manusia, kita tidak dapat terlepas dari permasalahan, tetapi bila kita hadapi permasalahan, harus ditemui dengan jiwa yang lebih besar, tenang, dan dituntaskan secara baik. Seorang pakar hukum dalam hadapi permasalahan harus responsif, kuat, dan tanggon. Maka dari itu, pengetahuan berkenaan pergerakan Pencak Silat yang pas akan menolong dalam hadapi permasalahan dan latih kesensitifan jiwa dan badan.

Riwayat Singkat Berdirinya SH (Setia Hati)

Menelaan lebih dalam berkaitan Riwayat Setia Hati atau (SH) yang dibangun oleh Eyang Ki Ngabehi Soero Diwirjo yang dengan diawali berdirinya Sedulur Tunggal Kecer (STK) di tahun 1903 dikampung Tambak Gringsing yang pembukaan pendirian Budi Mulia itu dari hasil himpunan sepak-terjang beliau saat melalang bhuwana jagad dengan ngudhi Pengetahuan Kaweruh. Berkaitan figur Eyang Ki Ngabehi Soero Diwirjo pada periode kecilnya inisial namanya Mas Dan yang lahir di hari Sabtu pahing tahun 1869. Berkaitan Nasab beliau adalah turunan Bupati Gresik. dari Ayahnya yang namanya Eyang Ki Ngabehi Soero Miharjo sebagai Mantri Cacar di Wilayah Ngimbang Jombang dan memiliki 5 (lima) putra salah satunya:
  1. Mas Dan (Eyang Ki Ngabehi Soero Diwirjo)
  2. Noto/Gunadi tinggal di Kota Surabaya
  3. Suradi/Adi tinggal di Kota Aceh
  4. Wongso Harjo tinggal di Kota Madiun
  5. Karto Diwirjo tinggal di Kota Jombang
Saudara lelaki ayahnya namanya KI Ngabei Soero Amiprojo sebagai Wedono di Wilayah Wonokromo Kota Surabaya, saudara ponakannya ialah Raden Mas Kusumo Dinoto sebagai bupati Kediri. Semua keluarga ini turunan dari Bathoro Kathong di Ponorogo (Wengker), putra raja Brawijaya di Mojopahit. Kemudian di tahun 1884 beliau berusia 15 tahun dan magang jadi juru catat sebagai Kontrolir diJombang,sekalian belajar dan mengajarkan mengaji beliau belajar pencak Silat yang disebut dasar kesukaan beliau untuk perdalam pencak Silat dimasa-masa kedepan.
Pada Tahun 1885, beliau yaitu Ki Ngabehi Soero Diwirjo berpindah ke Kota Bandung dan belajar Pengetahuan Pengetahuan sejenis Pencak Silat dengan Style Olahraga dari beberapa barisan figur yang telah banyak mengenyam Pengetahuan Kanugaran Pencak Silat yang dengan status Pendekar salah satunya mencakup di Wilayah Periangan, yang seteleh itu beliau mengumpulkan Jurus – jurus terebut salah satunya Jurus:
  1. Cimande
  2. Cikalong
  3. Cipete
  4. Cibedhuyut
  5. Cimalaya
  6. Ciampas
  7. Sumedangan
Di tahun 1886 beliau berpindah ke Wilayah Betawi karena pindak tugas di Kota Jakarta sebagai Kontrolir. Bukan Ki Ngabehi Soero Diwirjo bila tidak memanfaat Waktu seharusnya sambil bekerja perdalam Saluran Tipe Pencak Silat disitu dan memperoleh Jurus misalnya:
  1. Betawen
  2. Kwitang
  3. Monyetan
  4. Permainan toya
Tahun 1887 beliau berpindah tugas di kantor Kontrolir Kota Padang, dan beliau berguru pada Datuk Raja Baduo di Ampengale Kecamatan Pauh Kota Padang. Untuk dipahami jika Datuk Raja Baduo sebagai guru beliau di wilayah Sumatera Barat, sesudah Datuk Raja Baduo wafat ditukar adiknya yakni Datuk Baduo. Berkaitan saat yang dilakukan untuk mengenyam pengajaran Pencak Silat di Wilayahg Kota Padang sepanjang sepuluh tahun KI Ngabei Soero Diwirjo belajar dan memperoleh Jurus salah satunya:
  1. Bungus
  2. Sport de kock
  3. Alang Usang
  4. Klinto
  5. Alang Lipe
  6. Sterlak

Baju Hitam-hitam dan Spiritual

Pendiri Pencak Silat Setia Hati Tunggal Kecer (STK) ialah seorang pria yang lulus dari Padang pada era ke-19. Ia memberi baju hitam-hitam lengkap pada gurunya sebagai pertanda kelulusan. Di Padang, dia berjumpa dengan Nyoman Ida Gempol, seorang guru spiritual asal Bali yang dideportasi ke Padang oleh penguasa Belanda yang waktu itu melakukan eksplorasi di semua Indonesia. Pendiri Setia Hati Tunggal Kecer (STK) belajar pengetahuan spiritual dari Nyoman Ida Gempol yang mengajari ilmunya ke KI Ngabei Soero Diwirjo.

Pencak Silat dan Setia Hati Tunggal Kecer (STK)

Tahun 1897, pendiri Setia Hati Tunggal Kecer (STK) menikah dengan seorang gadis di Padang. Selanjutnya, di tahun 1898, dia dan istrinya berpindah ke Aceh bersama adiknya untuk belajar pencak Silat pada Tengku Achmad Ibrahim. Di Aceh, dia pelajari jurus-jurus misalnya:
  1. Langsa
  2. Perpersilangan
  3. Kucingan
  4. Ginjai
  5. Taruntung
Di tahun 1903, pendiri Setia Hati Tunggal Kecer (STK) membangun saluran pencak silat bernama Joyo Gendilo C.M. di daerah Tambak Gringsing dengan delapan orang pelajar yang didului oleh dua orang saudara yakni Noto/Gunadi (adik Ngabei sendiri) dan Kenevel (orang belanda). Tetapi, di tahun 1905, dia berpisah dengan istrinya yang dari Padang.

Perkawinan Ke-2 dan Kegiatan di Surabaya

Tahun 1902, pendiri Setia Hati Tunggal Kecer (STK) berpindah ke Jakarta sebagai masinis stumbals sebelumnya terakhir berpindah ke Bandung. Di tahun 1905, dia menikah untuk ke-2 kalinya dengan ibu Sariati dan mempunyai lima orang anak/putra. Tetapi, sayang, semua wafat saat kecil.
Tahun 1902 sampai 1912, dia bekerja sebagai Polisi Dinnar di Surabaya dan capai pangkat sersan mayor. Dia populer dengan keberaniannya karena kerap berkelahi dengan pelaut-pelaut asing. Di tahun 1912, dia memilih untuk stop dari polisi.

Pencak Silat Setia Hati Tunggal Kecer (STK) dan Pasar Malam Madiun

Tahun 1917, pendiri Setia Hati Tunggal Kecer (STK) bekerja di DKA di Surabaya sebelumnya terakhir dipindah ke DKA Madiun. Di Madiun, dia menetap di Winongo dan masih tetap aktif latih Pencak Silat Setia Hati Tunggal Kecer (STK) dan Pasar Malam Madiun
Tahun 1917, pendiri Setia Hati Tunggal Kecer (STK) bekerja di DKA di Surabaya sebelumnya terakhir dipindah ke DKA Madiun. Di Madiun, dia menetap di Winongo dan masih tetap aktif latih pencak Silat. Di tahun yang serupa, di Madiun, ada sebuah pasar malam yang didatangi oleh pelajar-siswa dari Joyo Gendilo Cipto Mulyo yang lakukan demo di alun-alun. Beberapa orang yang berkesan dan takjub dengan pergerakan pencak Silat yang ditampilkan. Nama Setia Hati Tunggal Kecer (STK) juga makin terkenal dan makin bertambah juga pelajar yang tergabung dengan saluran ini.
Pada waktu itu, saudara Osvia dan Mulo merekomendasikan untuk menukar nama Joyo Gendilo jadi Setia Hati. Pendiri Setia Hati Tunggal Kecer (STK) menyepakati anjuran itu karena lebih cocok dengan arah kekerabatan, keluhuran budi, dan kemanusiaan. Dengan semangat yang semakin lebih besar, Setia Hati semakin berkembang sampai menjadi satu diantara saluran pencak Silat paling besar di Indonesia.
Sebelumnya, Setia Hati Tunggal Kecer (STK) cuma mempunyai 8 orang pelajar, yang terbagi dalam 2 orang saudara yakni Noto dan Gunadi (adik Ngabei sendiri) dan Kenevel, seorang orang Belanda. Tetapi, seiring waktu berjalan, Setia Hati makin mengalami perkembangan dan cetak beberapa pendekar pencak Silat yang andal.
Setia Hati Tunggal Kecer (STK) sebagai saluran pencak Silat yang dikenali dengan pergerakan yang gesit, menawan, dan cantik. Beberapa gerakan itu jadi keunikan saluran ini dan membuat Setia Hati makin dikenali oleh warga. Dalam mengajari pencak Silat, Setia Hati Tunggal Kecer (STK) lebih memprioritaskan beberapa nilai kekerabatan, kesederhanaan, dan keyakinan ke Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam perjalanannya, Setia Hati Tunggal Kecer (STK) sudah banyak berperan serta dalam beragam aktivitas dan persaingan pencak Silat baik tingkat nasional atau internasional. Prestasi-prestasi yang sukses dicapai oleh Setia Hati Tunggal Kecer (STK) menunjukkan jika saluran ini betul-betul populer di Indonesia dan dianggap di dunia internasional.

Tahun 1933 Beliau Pensiun

Tahun 1944 beliau wafat di Desa Winongo Kota Madiun yang mana untuk Waktu Spesifik dari bukti yang Empiris ialah tepatnya pada waktu jam 14:00 WIB (siang menjelang sore) di hari Jumat pasaran Legi tanggal 10 bulan November tahun 1944 (10/11/1994)  di kala itu beliu tutup usia terakhir di usia 75 tahun yang sudah berkepala 7,5. Selain itu beliau yakni Ki Ngabehi Soero Diwiryo meninggalkan sebuah Wasiat supaya tempat tinggal dari sebuah Bangunan jenis Rumah meliputi Pekarangannya untuk di Wakafkan kepada Lembaga organisasi Pencak Silat SH (Setia Hati) dan selama mendian Ibu Ngabehi Soero Diiryo yang kala itu  masih hidup tetap berdomisili dengan menetap disana, selain itu beliau menikmati pensiunan beliau dari Almarhum Ki Ngabegi Soero Diwiryo. Almarhum Ki Ngabehi Soero Diwiryo dikebumikan atau dimakamkan berada di daerah Desa Winongo Kota Madiun dengan diberi sebuah tanda diatas Makam Pandoso dengan sebuat Batu Nisan jenis Batu Geranit dan di sekelilingnya ditanami sebuah tetumbuhan bunga seperti Bunga Melati dan Bunga Kamboja.
Daftar Nama Jurus Setia Hati (SH):
  • 01. Jurus 01 : Betawen
  • 02. Jurus 02 : Betawen II
  • 03. Jurus 03 : Cimande I
  • 04. Jurus 04 : Cimande II
  • 05. Jurus 05 : Cikalong
  • 06. Jurus 06 : Ciampas I
  • 07. Jurus 07 : Ciampas II
  • 08. Jurus 08 : Tanah Baru 1
  • 09. Jurus 09 : Tanah Baru 1.1
  • 10. Jurus 10 : Tionghoa Minangkabau
  • 11. Jurus 11 : Cimande III
  • 12. Jurus 12 : Cimande IV
  • 13. Jurus 13 : Cimande V
  • 14. Jurus 14 : Cibadhuyut/Toya
  • 15. Jurus 15 : Padang Panjang I
  • 16. Jurus 16 : Padang Pandang II
  • 11. Jurus 17 : Cipete
  • 18. Jurus 18 : Padang Siranti
  • 19. Jurus 19 : Sumedhangan I
  • 20. Jurus 20 : Sunnedhangan II
  • 21. Jurus 21 : Kinlho
  • 22. Jurus 22 : Cimande VI
  • 23. Jurus 23 : Alang Lawas I.
  • 24. Jurus 24 : Alang Lawas II
  • 25. Jurus 25 : Mingkabau I Kucingan
  • 26. Jurus 26 : Solok Hinangkabau
  • 27. Jurns 27 : Cipecut
  • 28. Jurus 28 : Cimande VII
  • 29. Jurus 29 : Sterlak
  • 30. Jurus 30 : Padang Ale I
  • 31. Jurus 31 : Padeng Ale II
  • 32. Jurus 32 : Fort de Kock/Bukit Tinggi
  • 33. Jurus 33 : Padang Ale III
  • 34. Jurus 34 : Padang Ale IV
  • 35. Jurus 35 : Kuda Batak
  • 36. Jurus 38 : Sphai Minangkabau III
Dari daftar Jurus 1 hingga 36 tersebut diatas telah diketahui bahwa hanya Jurus ke 29 yang tidak diajarkan, hal ini dengan pertimbingan bahwa Jurus 29 tersebut hanya diberikan Sandata Noto / Gundhi Adik Alhmarhum Ki Ngabehi Soero Diwiryo yang berdomisili di Kota Surabaya. Hal ini dikarenakan terkait Jurus ke 29 tersebut sangat berbahaya bagi pendekar yang mana jika sedang mempelajari dan selain itu juga membahayakan jikalau pendekar telah menguasi betul Jurus ke 29, pada dasarnya sebuah Ilmu Berbudi Luhur ini juga harus dilakoni dengan pengeceran atau disumpah lagi dan harus menyediakan mahar sebuah hewan jenis Kera Kukang (menurut mitos spiritual minyak kukang, serta tulang kukang biasa digunakan untuk menyalahi orang lain). Sehingga dari penjabaran terkait Jurus 29 tersebut dan Jurus lainnya juga tidak serta merta dipelajari tanpa Lelaku Spiritual seperti Berpuasa, Menyediakan Mahar setiap Jurus dan Selamat dari setiap Keterikatan Jurus yang berpasangan.
Oleh karena itu semua maka bagi Individu Pribadi Manusia yang berisinial Lelaki dan Wanita jika ingin mengamalkan sebuah Ilmu di jalur Budi Luhur harus sabar dan selalu nglengono serta legowo dari setiap keadaan yang dialami ketika berkesinambungan menjalani kehidupan di Dunia.
S H S I N A N D I
(SETYO BUDYO, SINUPEKET SINGSET)
(TINITI ALIRING TINDAK TINATI)
(HANGGAYUN PANDENE NGAWIRYO)
(HAHARSUDI HANDARANING WIWIHO)
(TINULATO ENG REH MENGESTUTI)

Sejarah Singkat Berdirinya Setia Hati Terate

Setia Hati Terate didirikan oleh KI Hadjar Hardjo Oetomo di desa Pilangbangu Kota Madiun, yang mana telah terbukti secara Empiris sepak terjang beliau merupakan sebagai salah satu perintis kemerdekaan Republik Indonesia.

Kisah perjalanan KI Hadjar Hardjo Oetomo

Cerita tentang beliau berikut ini dimulai dari Tahun 1905 beliau lulus dari Pendidikan Sekolah Rakyat atau Kelas Dua di (HIS), setelah itu beilau magang sebagai Guru di Daerang Bateng Kota Madiun, namun pada saat magang terjadi suatu kejadian karena beliau tidak cocok dengan bakatnya lalu beliau memutuskan untuk pindah kerja di SS (PJKA) sebagai Leering Bempte di Daerah Bondowoso, Panarukan dan Tapen. Namun karena adanya Ketimpangan Sosial di PJKA beliau selanjutnya mengambil keputusan dengan memberikan sikap yang berselisih dengan pimpinan atasan PJKA sehingga mengakibatkan beliau harus meninggalkan pekerjaan dan setelah itu beliau menuju Kampung Halaman di Kota Madiun.

Selanjutnya pada Tahun 1906 beliau yakni Ki Hadjar Hardjo Oetmo menjadi seorang Mantri Pasar di Kota Madiun, dan selama kurun waktu 4 tahun setelah itu beliau ditempatkan di Oasar Mlilir Kota Madiun, yang mana saat di Pasar Mlilir belaiu mendapatkan sebuah promosi karena saat bertugas beliau dapat meminimalir keadaan dengan sebuah keadaan dan kejadian terhadap pemungutan pleser dari orang dari sebuah transaksi jual beli Kayu, yang mana hal tersebut karena saat awal mulanya seseorang tidak mau menaati peraturan yang harus membayar pleser, dan karena itulah pada akhirnya beliau naikan jabatannya menjadi Ajuned Opsioner yang berada di Pasar Dolopo Millir dan Pagotan (Pabrik Tebu) namun hanya bertahan beberapa bulan saja yang belum menjelang waktu 1 tahun beliau memutuskan untuk keluar dari sebuah kegiatan dengan pekerjaan tersebut.