Kidung Rumekso Ing Wengi: Mantrawedha Karya Sunan Kalijaga

Kidung Rumekso Ing Wengi: Mantrawedha Karya Sunan Kalijaga

Kidung Rumekso Ing Wengi

<a href="https://www.pshterate.com/"><img src="Kidung Rumekso Ing Wengi Mantrawedha Karya Sunan Kalijaga.jpg" alt="Kidung Rumekso Ing Wengi: Mantrawedha Karya Sunan Kalijaga"></a>
Mantrawedha,  juga dikenal sebagai Kidung Rumekso Ing Wengi, adalah sebuah kidung yang merupakan karya Kangjeng Sunan Kalijaga atau As-Syekh Said (Raden Mas Said), seorang tokoh ulama Islam Jawa abad ke-15 dari sembilan wali songo yaitu tokoh penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, Indonesia. Kidung ini terkenal sebagai salah satu karya sastra Jawa yang memiliki nuansa spiritual dan ditulis dalam bahasa Jawa Kuno berbentuk mantra dan wejang yang terdiri dari sepuluh pupuh dhandhang gula. Kidung Rumekso Ing Wengi secara umum dilantunkan dengan suara lembut dan hening tanpa diiringi oleh gamelan, yang juga dikenal sebagai macapat. Kidung ini memiliki makna spiritual dan digunakan sebagai sarana perenungan dan meditasi untuk berkomunikasi dengan Allah SWT.

Struktur dan Konten Mantrawedha

Mantrawedha atau Kidung Rumekso Ing Wengi ini, terdiri dari sepuluh pupuh yang menggambarkan pesan dan ajaran spiritual Kangjeng Sunan Kalijaga. Pada lima pupuh pertama, terdapat inti dari Mantrawedha yang terdiri dari doa kepada Allah SWT. Oleh karena itu, bagi mereka yang ingin berdoa dengan menggunakan kidung ini, cukup membaca atau melantunkan pupuh satu hingga lima. Doa yang terkandung dalam lima pupuh pertama ini meliputi permohonan keselamatan dari gangguan kejahatan, penyakit, dan hama baik secara fisik maupun spiritual.
Pupuh-pupuh selanjutnya menggambarkan wejang dari Kangjeng Sunan Kalijaga tentang isi dan misi kelima pupuh pertama tersebut. Melalui Mantrawedha, Sunan Kalijaga menyampaikan pesan-pesan tentang makna hidup, pengendalian diri, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Penulisan dan Pengucapan Kidung Rumekso Ing Wengi

Dalam penulisan Kidung Rumekso Ing Wengi, terdapat beberapa bahasa daerah yang tidak dapat sepenuhnya dituliskan menggunakan aksara Latin, terutama bahasa alam. Beberapa vokal dan konsonan tidak terwakili oleh aksara Latin, termasuk dalam bahasa Jawa yang pun memiliki inkonsistensi dalam penulisan aksaranya. Sebagai contoh, vokal “a” dalam bahasa Jawa dapat diucapkan dengan berbagai variasi, baik yang tegas maupun yang terletak di antara “a” dan “o”. Namun, penulisan yang benar tetap menggunakan “a” baik dalam aksara Latin maupun aksara Jawa.
Untuk memudahkan pembaca, setiap pupuh dalam Kidung Rumekso Ing Wengi ditulis sebanyak dua kali. Yang pertama adalah penulisan yang seharusnya, dan yang kedua adalah penulisan berdasarkan pengucapannya. Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak ada aksara Latin yang dapat merepresentasikan vokal di antara “a” dan “o”.

Warisan dan Makna Spiritual

Kidung Rumekso Ing Wengi atau Mantrawedha memiliki kedalaman makna spiritual dan warisan budaya yang penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Melalui kidung ini, Kangjeng Sunan Kalijaga mengajarkan nilai-nilai spiritual, pengendalian diri, serta pentingnya hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Kidung Rumekso Ing Wengi menjadi salah satu bentuk doa dan meditasi yang digunakan oleh masyarakat Jawa dalam mencari kedamaian, keselamatan, dan petunjuk dari Tuhan. Kidung ini juga dianggap memiliki kekuatan magis dan protektif yang dapat melindungi pengamalnya dari berbagai ancaman baik secara fisik maupun spiritual.
Mantrawedha terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Jawa sebagai bagian dari warisan budaya yang kaya. Melalui pemeliharaan dan penggunaan Kidung Rumekso Ing Wengi, nilai-nilai spiritual dan ajaran yang terkandung dalam kidung ini dapat terus diteruskan kepada generasi selanjutnya.

Isi Kidung Rumekso Ing Wengi

Berikut 10 Pupuh Mantrawedha dalam Bahasa Jawa, Indonesia serta Penjelasan untuk Arti dari Kidung tersebut.

Pupuh 1

  • Ana kidung rumeksa ing wengi,
  • Teguh ayu luputa ing lelara,
  • Luputa bilahi kabeh,
  • Jin setan datan purun,
  • Paneluhan tan ana wani,
  • Miwah panggawe ala,
  • Gunaning wong luput,
  • Geni atemahan tirta,
  • Maling adoh tan ana ngarah mring mami,
  • Guna duduk pan sirna.

Terjemahan

  • Ini doa penjaga malam,
  • Semoga semua aman tetap sehat dan terbebas dari kesusahan,
  • Terhindar dari segala mara bahaya petaka,
  • Jin dan setan tidak akan mengganggu,
  • Teluh atau Santet tidak akan berani beraksi,
  • Segala niat jahat dan tipu muslihat akan luput atau terlewatkan,
  • Api akan dipadamkan oleh air,
  • Pencuri menjauh tidak berani mencuri atau menyatroni diriku,
  • Dan segala bentuk santet akan hilang atau sirna.

Tafsir

Pupuh 1 merupakan sebuah kidung dalam bahasa Jawa yang berisi doa atau permohonan untuk melindungi diri dari bahaya pada malam hari. Kidung ini menggambarkan harapan agar semua orang bisa terhindar dari penyakit dan bencana. Dalam kidung ini juga disebutkan bahwa jin dan setan tidak akan mengganggu, serta santet atau tipu daya tidak akan berhasil. Kidung ini juga menyiratkan harapan bahwa api akan padam jika terkena air, dan maling atau pencuri akan menjauh dan tidak berani mencuri. Dengan demikian, kidung ini mengandung harapan akan keselamatan dan perlindungan dari segala bentuk bahaya yang mungkin mengancam pada malam hari.

Pupuh 2

  • Sakabehing lara pan samya bali,
  • Sakeh ngma pan sami mirunda,
  • Welas asih pandulune,
  • Sakehing braja luput,
  • Kadi kapuk tibaning wesi,
  • Sakehing wisa tawa,
  • Sato galak lulut,
  • Kayu aeng lemah sangar,
  • Songing landhak guwaning,
  • Wong lemah miring,
  • Myang pakiponing merak.

Terjemahan

  • Segala penyakit akan sembuh,
  • Segala hama akan pergi,
  • Semua orang melihatku dengan penuh kasih,
  • Serangan senjata akan terhindar dariku,
  • Seperti kapas jatuh di atas besi,
  • Segala racun tidak berpengaruh bagiku,
  • Binatang buas akan tunduk padaku,
  • Baik itu pohon angker, tanah gersang,
  • Bulu landak, goa di tebing curam,
  • Atau sarang merak.

Tafsir

Pupuh 2 juga merupakan kidung dalam bahasa Jawa yang mengungkapkan harapan untuk mendapatkan perlindungan dan keberanian dalam menghadapi berbagai rintangan dan ancaman. kidung ini menyampaikan pesan bahwa semua penyakit akan kembali ke asalnya, artinya harapan untuk sembuh dari segala macam penyakit. Selain itu, semua hama atau gangguan juga akan pergi menjauh, menunjukkan keinginan untuk terhindar dari gangguan dan ancaman.
Kidung ini juga menyiratkan bahwa semua orang akan melihat dengan penuh kasih sayang, sehingga diharapkan adanya dukungan dan pemahaman dari orang-orang di sekitar. Selanjutnya, kidung ini menyampaikan harapan bahwa semua serangan senjata atau ancaman akan luput atau tidak akan mencapai diri sendiri.
Dalam kidung ini digambarkan pula bahwa seperti kapuk yang jatuh di atas besi, segala racun atau bahaya akan netral atau tidak berpengaruh bagi diri sendiri. Binatang buas akan tunduk, pohon angker dan tanah gersang tidak akan menjadi rintangan, dan sarang merak juga tidak akan membahayakan.

Pupuh 3

  • Pagupakaning warak sakalir,
  • Nadyan arka myang segara asat,
  • Temahan rahayu kabeh,
  • Apan sarira ayu,
  • Ingideran mring widadari,
  • Rineksa malaikat,
  • Sakathahing rasul,
  • Pan dadi sarira tunggal,
  • Ati Adam uteku Baginda Esis,
  • Pangucapku ya Musa.

Terjemahan

  • (dan) kolam lumpur badak dan sejenisnya,
  • Termasuk sinar matahari yang begitu terik sehingga mampu mengeringkan laut,
  • Semuanya segera menjadi nyaman,
  • Dan bahagia,
  • Seperti diiringi oleh bidadari,
  • Diawasi oleh malaikat,
  • Dan oleh semua rasul,
  • Semuanya menyatu dalam jiwa (denganku),
  • Perasaanku adalah (seperti Nabi) Adam, pemikiranku adalah (seperti Nabi) Sis,
  • (dan) ucapanku adalah (seperti Nabi) Musa.

Tafsir

Pupuh 2 dan 3 ini menggambarkan keinginan yang mendalam untuk menyebarkan “penyalaan” atau pencerahan. Semua penyakit, serangga hama, dan bahaya serangan senjata tidak memiliki arti. Kekejaman binatang buas berubah menjadi ketaatan. Wilayah-wilayah yang angker, tandus, berbahaya, menakutkan, dan kering (penuh kekurangan) berubah menjadi indah, damai, subur, nyaman, dan penuh kebahagiaan.
Semua ini terjadi berkat keimanan kita, yang memancarkan aura para malaikat dan para rasul dari dalam diri kita. Semua bersatu dalam jiwa, di mana perasaanku seperti Nabi Adam, pemikiranku seperti Nabi Sis, dan ucapanku seperti Nabi Musa.
Apa yang istimewa tentang perasaan Adam? Tentu saja, Nabi ini adalah satu-satunya lelaki yang pernah hidup di Surga sebelum turun ke bumi. Beliau juga merupakan manusia pertama versi zaman sekarang. Bahkan terdapat cerita bahwa beliau turun ke bumi karena dosa. Semua ini menunjukkan kondisi yang ekstrem. Ketika berada di Surga, beliau merasakan kenikmatan yang ekstrem. Setelah berbuat dosa dan diturunkan ke bumi, beliau merasakan penyesalan yang ekstrem, tetapi harus mengatasinya dengan tawakal yang ekstrem. Oleh karena itu, tidaklah mungkin bagi manusia lain untuk membayangkan apa yang dirasakan oleh Adam, dan manusia lain tidak akan pernah mengalami pengalaman yang sama seperti yang dialami oleh Adam.
Pemikiran Nabi Sis dan ucapan Nabi Musa, tampaknya merupakan puncak yang disimpulkan oleh Sunan Kalijaga. Hal-hal seperti ini akan dilanjutkan dalam pupuh 4 dan 5.

Pupuh 4

  • Napasku Nabi Ngisa linuwih,
  • Nabi Yakub pamiyarsaningwang,
  • Nabi Dawud swaraku,
  • Nabi Ibrahim nyawaku,
  • Nabi Sleman kasekten mami,
  • Nabi Yusup rupengwang, 
  • Edris ing rambutku,
  • Bagindha Ngali kuliting wang,
  • Abu Bakar getih daging Ngumar singgih,
  • Balung Bagindha Ngusman.

Terjemahan

  • Nafasku seperti Nabi Isa,
  • Penampilanku seperti Nabi Yakub,
  • Suaraku seperti Nabi Dawud,
  • Nyawaku seperti Nabi Ibrahim,
  • Kesaktianku seperti Nabi Sulaiman,
  • Wajahku seperti Nabi Yusuf,
  • Rambutku seperti Nabi Idris,
  • Kulitku seperti (sahabat) Ali,
  • Darahku seperti (sahabat) Abu Bakar,
  • Dagingku seperti (sahabat) Umar,
  • Tulangku seperti (sahabat) Usman,

Pupuh 5

  • Sungsum ingsun Patimah linuwih,
  • Siti Aminah banyuning angga,
  • Ayub ing ususku mangke,
  • Nabi Nuh ing jejantung,
  • Nabi Yunus ing otot mami,
  • Netraku ya Muhammad,
  • panduluku rasul,
  • pinayungan Adam Sarak,
  • sampun pepak sakhathahing para Nabi,
  • dadya sarira tunggal.

Terjemahan

  • Sumsumku seperti Fatimah,
  • Cairan tubuhku seperti Siti Aminah,
  • Ususku seperti Nabi Ayub,
  • Jantungku seperti Nabi Nuh,
  • Ototku seperti Nabi Yunus,
  • Mataku seperti Nabi Muhammad,
  • Penglihatanku seperti rasul,
  • Diteduhi oleh Nabi Adam dan Siti Sarah,
  • Sudah lengkap dengan semua nabi,
  • Menyatu dalam jiwaku.

Tafsir

Kidung ini menggambarkan bahwa seluruh tubuh kita, baik dari luar maupun dalam, dipenuhi oleh aura para nabi, para sahabat, dan para istri Nabi Muhammad. Apakah ini benar-benar sebuah permohonan agar aura istimewa dari para manusia tersebut dapat masuk dan menjadi bagian dari aura kita, atau hanya sebatas perumpamaan atau memiliki makna lain, saya belum mengetahuinya dengan pasti. Yang jelas, Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang memiliki tingkat ilmu dan pengetahuan yang tinggi, dan kemampuannya sudah mencapai tingkat makrifat. Seperti yang pernah saya tulis di laman Bima Suci, seseorang yang memiliki tingkat makrifat adalah orang yang sangat berbakat, sehingga tidak selalu pola pikirnya dapat dipahami oleh orang awam. Kejeniusan Sunan Kalijaga telah terbukti, tidak hanya melalui pengembangan seni dan budaya, tetapi juga dalam tata kota dan teknik bangunan, meskipun beliau bukan seorang insinyur sipil.
Pupuh 6-7: Wejang Sunan Kalijaga tentang Mantrawedha
Pupuh 6 hingga 10 merupakan penjelasan atau “wejang” dari Sunan Kalijaga tentang inti dari Mantrawedha yang terdapat pada pupuh 1 hingga 5 di atas. Namun, tampaknya wejang ini tidak hanya menjelaskan arti dari setiap pupuh, tetapi lebih cenderung menjelaskan khasiat atau manfaat dari kidung ini serta cara untuk memperolehnya.

Pupuh 6

  • Wiji sawiji mulane dadi,
  • Apan pencar sak indenging jagad,
  • Kasamadan dening dzate,
  • Kang maca kang angrungu,
  • Kang anurat kang anyimpeni,
  • Dadi ayuning badan,
  • Kinarya sesembur,
  • Yen winacakna ing toya,
  • Kinarya dus rara tuwa gelis laki,
  • Wong edan nuli waras.

Terjemahan

  • Setiap benih yang tumbuh,
  • Akan menyebar ke seluruh dunia,
  • Mendapat berkah dari Tuhan yang Maha Kuasa,
  • Yang membaca, yang mendengar,
  • Yang menulis, yang menyimpannya,
  • Semua akan mendapatkan manfaat dan pahala,
  • Sebagai petunjuk.
  • Jika kidung ini dibaca dekat air,
  • Gadis tua akan segera menemukan pasangan hidup,
  • Dan orang gila akan segera sembuh.

Tafsir

Ilmu yang bermanfaat, baik itu pengetahuan maupun keterampilan, akan mendapatkan ridha dari Yang Maha Kuasa dan menyebar ke seluruh dunia. Semua pihak akan mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut, baik mereka yang membaca, mendengarkan, menulis, maupun menyimpannya. Begitu juga dengan kidung ini (pupuh 1-5), jika dibacakan di dekat air. Jika air itu digunakan untuk mandi oleh seorang gadis tua, dia akan segera menemukan jodohnya. Jika air itu digunakan untuk mandi oleh seorang yang gila, dia akan segera sembuh dan mendapatkan kesehatannya kembali.

Pupuh 7

  • Lamun ana wong kadhendha kaki,
  • Wong kabanda wong kabotan utang,
  • Yogya wacanen den age,
  • Nalika tengah dalu,
  • Ping sawelas wacanen singgih,
  • Luwar saking kebanda,
  • Kang kadhendha wurung,
  • Aglis nuli sinauran,
  • Mring Hyang Suksma kang utang puniku singgih,
  • Kang agring nuli waras.

Terjemahan

  • Jika seseorang terkena denda,
  • Atau terjebak dalam hutang yang mengikat,
  • Sebaiknya segera membaca kidung ini (pupuh 1-5),
  • Di tengah malam,
  • Pukul 11 malam, bacalah dengan khusyuk,
  • Pengikatan akan segera terlepas,
  • Denda akan segera ditunda,
  • Tuhan yang akan melunasi hutangnya,
  • Dan jika sakit, segera sembuh.

Tafsir

Bagi mereka yang sedang menghadapi ancaman denda, hukuman, hutang, atau terjebak dalam situasi sulit, kidung ini (pupuh 1-5) dapat menjadi doa yang ampuh untuk memohon pertolongan Allah. Terutama jika kidung ini dibacakan dengan khusyuk pada pukul 11 malam. Ancaman denda akan ditunda, jeratan akan segera terlepas, dan hutang akan segera terbayar. Tuhan akan memberikan jalan yang mudah untuk melunasi hutang.
Namun, karena ini adalah mantra yang berasal dari seorang wali, tentu tidak mungkin menyelamatkan orang yang sengaja melakukan kesalahan dengan niat jahat. Kidung ini mungkin cocok untuk mereka yang melakukan kesalahan tanpa sengaja atau terjerat dalam situasi sulit karena ulah orang lain. Misalnya, terlibat dalam perkelahian yang tidak diinginkan atau mengalami kesulitan keuangan karena kehilangan pekerjaan. Niat mereka bukan untuk menghindar dari tanggung jawab.
Namun, karena mereka tidak memiliki uang untuk membayar, terlihat seperti mereka menghindar. Kesalahan-kesalahan seperti ini akan dimohonkan dalam kidung mantra ini untuk memohon pertolongan Tuhan.
Bagi mereka yang benar-benar bersalah, seperti penjahat atau koruptor, doa kidung ini tidak akan memberikan manfaat. Mereka mungkin perlu mencari mantra dari setan atau iblis jika ingin menghindari hukuman. Sebenarnya, kidung ini justru efektif untuk menaklukkan mereka, karena masuk dalam kategori sebagai pelaku yang mengalami keselamatan. Bahkan, orang-orang jahat seperti itu bisa dianggap sebagai penyakit atau hama yang harus diatasi.

Pupuh 8

  • Lamun ora bisa maca kaki,
  • Winawera kinarya ajimat,
  • Teguh ayu tinemune,
  • Lamun ginawa nglurug,
  • Mungsuhira tan ana wani,
  • Luput senjata tawa,
  • Iku pamrihipun,
  • Sabarang pakaryanira,
  • Pan rineksa dening Hyang Kang Maha Suci,
  • Sakarsane tinekan.

Terjemahan

  • Jika kamu tidak bisa membaca,
  • Hapalkan seperti jimat,
  • Pasti akan aman,
  • Jika kamu membawa ke medan perang,
  • Musuhmu akan merasa takut,
  • Terhindar dari serangan senjata apapun,
  • Itulah manfaatnya,
  • Segalanya akan dijaga oleh Tuhan yang Maha Suci,
  • Dan semua keinginanmu akan dikabulkan.

Tafsir

Bagi mereka yang tidak bisa membaca (buta huruf), tetap bisa mendapatkan manfaat dari kidung ini dengan menghapalkannya. Kidung ini tetap akan menjadi doa yang efektif untuk memohon keselamatan dalam peperangan dan untuk mencapai apa yang kita inginkan.

Pupuh 9

  • Lamun arsa tulus nandur pari,
  • Puwasaa sawengi sadina,
  • Iderana galengane,
  • Wacanen kidung iku,
  • Kehing ama samya bali,
  • Yen sira lunga perang,
  • Wateken ing sekul,
  • Antuka tigang pulukan,
  • Musuhira rep sirep tan ana wani,
  • Rahayu ing payudan.

Terjemahan

  • Jika kamu akan bercocok tanam padi,
  • Berpuasalah satu hari semalam,
  • Dan berjalanlah di sepanjang tanggulnya,
  • Sambil membaca kidung ini,
  • Maka segala hama akan kembali ke tempat asalnya,
  • Jika kamu akan pergi ke medan perang,
  • Bacalah kidung ini dekat hidangan nasi,
  • Makanlah tiga suapan,
  • Maka musuhmu akan takut dan tidak berani,
  • Dan kamu akan selamat dalam peperangan.

Tafsir

Bagi mereka yang akan bercocok tanam padi, kidung ini juga berfungsi sebagai doa yang ampuh untuk memohon keberhasilan dalam panen di masa depan. Akan lebih baik jika kidung ini dibaca saat berpuasa sambil berjalan di sepanjang pematang sawah. Hal ini akan menjadi doa yang kuat untuk memohon agar tanaman terbebas dari hama dan penyakit.
Bagi mereka yang hendak pergi ke medan perang, kidung ini dapat dibaca dekat hidangan nasi dan dilanjutkan dengan memakan tiga suapan. Ini akan menjadi doa yang ampuh untuk memohon keselamatan dan kejayaan di medan pertempuran.

Pupuh 10

  • Sing sapa kulina anglakoni,
  • Amutiya lawan anawaa,
  • Patang puluh dina bae,
  • Lan tangi wektu subuh,
  • Lan den sabar sukuring ati,
  • Insha Allah tinekan,
  • Sakarsanireku,
  • Tumrap sanak rakyatira,
  • Saking sawabing ngelmu pangiket mami,
  • Duk aneng Kalijaga.

Terjemahan

  • Bagi yang suka merasa prihatin,
  • Lakukanlah puasa dan makan nasi putih dengan air putih,
  • Selama 40 hari saja,
  • Bangunlah setiap pagi menjelang fajar,
  • Dan utamakan kesabaran dan rasa syukur,
  • Insya Allah harapanmu akan dikabulkan,
  • Apa pun yang kamu inginkan,
  • Baik untuk kerabatmu maupun rakyatmu,
  • Dengan pengaruh keimanan yang saya dapatkan,
  • Saat berada di Kalijaga.

Tafsir

Bagi mereka yang terbiasa melakukan lelakon atau bertapa, mereka dapat mengambil manfaat yang lebih sempurna dari kidung ini. Syaratnya adalah melakukan puasa mutih atau tawar selama 40 hari. Puasa mutih berarti berpuasa dan hanya makan makanan yang berwarna putih atau tidak berwarna. Puasa nawa berarti berpuasa dan hanya makan makanan yang tidak berasa. Di sini, diharuskan untuk melakukan puasa mutih dan nawa selama 40 hari.
Selain itu, juga diharuskan untuk bangun setiap pagi menjelang fajar dan dengan penuh kesadaran, mengangkat wajah ke langit dengan rasa pasrah dan kesabaran, sambil berucap syukur kepada Allah yang Maha Kuasa. Insya Allah, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan dan berkah yang melimpah bagi seluruh kerabat dan rakyat. Karena cara ini sungguh-sungguh sesuai dengan cara sang wali mendapatkan ilmu ini saat berada di Kalijaga.

MP3 Kidung Rumekso Ing Wengi

Kesimpulan

Kidung Rumekso Ing Wengi adalah sebuah karya sastra Jawa yang sangat berharga dan memiliki nilai-nilai spiritual yang mendalam. Sunan Kalijaga, sebagai penyusunnya, mampu menggabungkan kearifan lokal dengan ajaran-ajaran agama Islam, menciptakan sebuah karya yang indah dan bermakna.
Kidung ini telah memberikan pengaruh yang besar terhadap budaya, kesenian, dan spiritualitas masyarakat Jawa. Nilai-nilai yang terkandung dalam kidung ini tetap relevan dan diapresiasi hingga saat ini. Kidung Rumekso Ing Wengi merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah dan warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan dan dihargai oleh generasi-generasi mendatang.

Bagikan

Sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate

Sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate

Sejarah Singkat Persaudaraan Setia Hati Terate Sejarah Persaudaraan Setia Terate, Berdirinya Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate tidak dapat dipisahkan dari kisah pendirinya.
Arti Setia Hati Terate

Arti Setia Hati Terate

Arti Setia Hati Terate Dalam kodratnya, manusia memiliki kecenderungan dan keinginan untuk tumbuh dan berkembang menuju proses pembentukan jatidiri yang